Proyek pembangunan pipa gas Cirebon–Semarang Tahap II (CISEM Tahap II) merupakan salah satu proyek strategis nasional yang bertujuan untuk memperluas jaringan gas di Indonesia. Proyek ini menghubungkan ruas Batang ke Kandang Haur Timur dengan panjang total 245 km. Pipa gas tersebut menggunakan material baja berdiameter 20 inci, yang sangat rentan terhadap korosi baik dari dalam maupun luar. Untuk mengatasi masalah ini, salah satu solusi yang diterapkan adalah menggunakan metode geolistrik.
Metode geolistrik sangat penting untuk menentukan lokasi yang ideal dalam pemasangan anoda pada sistem proteksi katodik, sehingga mencegah atau mengurangi korosi pada pipa baja. Artikel ini akan menjelaskan lebih detail tentang aplikasi metode geolistrik dalam proyek pipa gas CISEM Tahap II dan bagaimana metode ini mendukung pengamanan sistem pipa gas.
Metode geolistrik adalah teknik yang digunakan untuk mempelajari sifat kelistrikan bawah permukaan bumi. Proses ini melibatkan penginjeksian arus listrik DC (Direct Current) ke dalam tanah dan mengukur respon tanah terhadap arus tersebut. Salah satu parameter penting yang diukur adalah resistivitas, atau hambatan listrik yang dimiliki oleh material di bawah permukaan.
Dalam konteks proyek pipa gas, resistivitas digunakan untuk menentukan area terbaik untuk memasang anoda sebagai bagian dari sistem proteksi katodik. Anoda adalah komponen yang sengaja dikorbankan untuk mencegah korosi pada pipa baja yang berfungsi sebagai katoda.
Resistivitas yang rendah memungkinkan proses pelepasan elektron dari anoda ke katoda berlangsung lebih cepat dan efisien. Oleh karena itu, area dengan resistivitas rendah sangat ideal untuk penempatan anoda. Dengan demikian, proteksi katodik dapat berfungsi secara optimal, mencegah korosi pada pipa gas baja.

Proyek CISEM Tahap II memanfaatkan metode geolistrik untuk memastikan pemasangan anoda pada lokasi yang tepat guna melindungi pipa gas dari korosi. PT. Abhinaya Prima Enjineering adalah salah satu perusahaan yang terlibat dalam proyek ini. Tim mulai melakukan pengukuran pada 10 September 2024, di area Pertamina Kandang Haur Timur.
Pengukuran resistivitas ini bertujuan untuk meminimalkan risiko korosi yang dapat merusak jaringan pipa. Proteksi katodik bekerja dengan cara mengalirkan arus listrik dari anoda ke katoda, sehingga pipa baja tidak terkena korosi secara langsung. Ini membantu memperpanjang usia pipa dan mencegah kerugian finansial akibat kerusakan yang disebabkan oleh korosi.

Penggunaan metode geolistrik dalam proyek CISEM Tahap II menawarkan berbagai manfaat. Beberapa di antaranya adalah:
Metode geolistrik merupakan solusi yang efektif dan efisien dalam mencegah korosi pada proyek pipa gas seperti CISEM Tahap II. Dengan pengukuran resistivitas yang akurat, lokasi pemasangan anoda dapat dipilih secara optimal, memastikan proteksi katodik berfungsi dengan baik. Ini akan memperpanjang umur pipa dan mengurangi potensi kerusakan akibat korosi. Dalam jangka panjang, langkah ini tidak hanya menghemat biaya tetapi juga meningkatkan keselamatan operasional jaringan pipa gas di Indonesia.
